Friday, 18 September 2015

KISAH DI SALAH SATU SERVICE CENTER PROVIDER TELEKOMUNIKASI

Adalah kisahku hari ini. Ketika pergi ke service center salah satu provider telekomunikasi di Pasuruan untuk mengganti fisik kartu SIM-ku dari ukuran normal SIM ke micro SIM. Sesuai prosedur aku dibukakan pintu oleh satpam kemudian diberikan kartu nomor antrean yang tertulis angka lima. Customer service sedang melayani seseorang dan bisa kupastikan orang yang sedang dilayani itu adalah pengunjung dengan nomor antrean pertama. Karena di kursi tunggu ada 5 orang lain, satu perempuan dan 2 pasangan suami istri.
Cukup lama menunggu. Sekitar 20 menit mungkin. Ketika tiba giliranku, aku maju dan mengutarakan maksudku. Namun permintaanku tidak bisa dipenuhi karena servernya sedang error, begitu kata CS nya. Yah, jadi penantian selama 20 menit yang kulakukan sambil terkantuk-kantuk tadi konklusinya adalah TIDAK BISA. Haduuh, a little bit annoying.
Oke, tak buang waktu aku langsung angkat kaki dari kursi depan CS sembari menyembunyikan sedikit kekesalan. Keluar dari pintu - yang lagi-lagi dibukakan satpam - aku menuju motorku hingga sejurus kemudian aku merasa tergerak untuk melakukan sesuatu. Yah, sesuatu itu adalah memberikan saran kepada satpam agar ditulis semacam pengumuman di depan service center tersebut bahwa layanan pergantian SIM untuk sementara mengalami masalah. Agar orang lain setelahku, yang ingin mendapatkan layanan yang sama, nantinya tidak merasa dikecewakan juga. Meski awalnya sedikit berargumen, pak satpam mengucapkan terima kasih kepadaku. Terima kasih yang terasa berbeda, seperti diucapkan oleh orang yang merasa dirinya telah diingatkan dari sebuah kekhilafan kecil. Ketika aku menstarter motorku, dari luar pintu kulihat pak satpam tersebut sedang sibuk mencorat-coret sesuatu.
Yah, sedikit kebaikan hari ini (itupun kalo Tuhan menganggap ini suatu kebaikan). Segala puji bagi Allah. Aku merenung. Ah, bahagia sekali rasanya merasa menjadi orang yang - paling tidak menurut penilaianku sendiri - sedikit bermanfaat bagi orang lain. Andai ada beberapa orang pada hari itu yang juga mau mengganti kartu sepertiku, sudah berapa menit waktu yang dapat mereka hemat untuk kegiatan lain. Atau jika saran tersebut tak kuberikan (atas izin Tuhan tentu saja), bukankah tidak menutup kemungkinan pula ada sebagian diantara pelanggan itu yang bersifat tempramental, tak sabaran, sehingga pihak service center tadi yang akan menjadi korban kemarahan. Yeah, God knows!
Khoirunnas anfa'uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Begitu kata Nabi Muhammad, nabiku, nabi panutan umat Islam. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena memberi kesempatan untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain, dan untuk kesadaran yang diberikan agar tak enggan memberi saran tersebut. Kembali aku merenung, mungkin akan menjadi kisah yang berbeda andai yang kulakukan selepas keluar dari pintu service center tersebut hanya memendam kekesalan dan umpatan. Yeah, lagi-lagi, God knows! Allah Maha Tahu.

*Sabtu, 30 Mei 2015, sore hari, Pasuruan

Friday, 14 August 2015

TRAGEDI KONTAK HILANG II


Waktu itu hari Rabu, menggunakan seragam kuliah berwarna krem. Aku pulang ke kosan dengan membawa motor teman sekamarku, Herdianto M P. Jangan tanya padaku kenapa dia tidak ikut pulang waktu itu, karena aku lupa, hehe. Di kosanku, ada juga tetangga sebelah kamar yang juga teman kuliahku dan Herdi, mereka tinggal sekamar bertiga. Mereka-mereka itu adalah Yakup, Bangkit, dan Yayak.

Nah, Kamis paginya ketika mau berangkat kuliah, aku lupa menaruh kunci motor tersebut dimana. Karena takut terlambat, dan motor di kosan cuma ada dua sementara jumlah kami berlima (Aku, Herdi, Yakup, Sulthani, dan Bangkit) akhirnya kami sepakat untuk membagi boncengan masing-masing motor dua orang dan tiga orang. Motor Herdi ditinggal di kosan.

Siangnya, usai pulang kuliah kucoba mencari lagi kunci motor tersebut. Di kamarku sendiri, tak ada. Kucari juga di kamar Sulthani, Bangkit, dan Yakup, maksudku, siapa tahu aku lupa menaruh kunci tersebut sembarangan ketika menonton TV atau bermain PES disana. Namun, di kamar mereka tak ada pula. Kucari dijalan, siapa tahu kunci tersebut jatuh, tak ketemu juga. Sampai malam hari kucari, tak kunjung kutemukan. Hari Jum'at pun kami lalui dengan masalah yang sama.

Usai pulang kuliah Jum’at aku mengajak kawan-kawanku mengobrak-abrik kamar, siapa tahu benda kecil tersebut terselip di suatu tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Herdi tak ikut karena ia sedang tidak berada di kosan. Kasur diangkat, lemari tempat menaruh TV diseret-seret. Kamar mandi pun tak luput dari razia. Namun hasilnya nihil. Yakup frustasi, daripada repot-repot dia menyarankan agar aku memanggil ahli kunci saja.

Aku turuti saran itu, Jum'at sore aku berangkat ke Tukad Pakerisan bersama Bangkit untuk menjemput ahli kunci. Kepadaku, Sulthani alias Yayak bilang bahwa sebaiknya kunci kamar kosan digandakan juga. Segera kutangkap maksud itu, bahwa maksud Yayak yang sebenarnya adalah berjaga-jaga siapa tahu tak ada angin tak ada hujan, penyakit lupaku ini menular dari kunci motor ke kunci kamar.  Sekedar informasi, kawanku yang satu ini memang pandai sekali menjaga hati orang lain agar tidak tersinggung. :D

Masalah yang dua hari tak kunjung terselesaikan oleh kami berempat, Mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, ternyata lenyap seketika di tangan ajaib si ahli kunci hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Perbandingan yang menyedihkan.

Kepada kami, ahli kunci memasang tarif 30.000,- untuk satu kunci motor karena hilang. Dan Rp 10.000,- untuk tarif menggandakan kunci kamar. Kawanku bertiga yang baik hati, menyumbangkan masing-masing 10.000,- buatku. Namun, karena aku tak mau merepotkan mereka dan mereka tak mau pula kukembalikan uangnya, maka aku punya ide agar uang 30.000 itu dibelikan Mie Ayam saja. Kita makan bersama.

Keadaan seperti ini Kawan, kalau tidak salah sering disebut dengan “simbiosis parasitisme” hehe.

Senin pagi, aku mengangkat seragam kremku yang kemarin telah kucuci untuk disetrika, karena seragam krem dipakai setiap Senin dan Rabu. Ketika menyetrika bagian saku celana, aku menemukan sebuah keanehan. Ada suatu benda kecil yang terselip di dalamnya. Setelah kurogoh, aku kaget setengah mati. Kunci Motor Herdi yang selama ini menghilang.
:D

Tragedi Kontak Hilang I

LATIHAN TEATER DI KANTOR WAKIL WALIKOTA PASURUAN

Jadi, aku adalah seseorang yang dipilih Tuhan untuk menanggung karunianya berupa penyakit lupa. Dan lucunya, kebanyakan benda yang sering kulupa itu adalah kunci motor alias kontak. Beruntung, penyakit lupa ini akhir-akhir ini sudah mulai sembuh. Tapi, semasa SMA dulu kusimpan kekonyolan-kekonyolan yang terjadi akibat sakit pelupaku ini. Beberapa memang sangat konyol sih, haha. Kunamai cerita-cerita tersebut dalam balada berjudul "Tragedi Kontak Hilang".

Ketika itu, latihan telah usai dan semua anggota teater sudah pulang kecuali aku dan temanku, Edi. Masalahnya, aku lupa menaruh kunci motorku tadi dimana sehingga kami tak bisa pulang sesuai jadwal. Aku mengajak Edi menelusuri senti demi senti ruang latihan kami yang luasnya kurang lebih sebesar satu setengah kali luas sebuah ruang kelas.

Edi mencari sambil ngomal-ngomel mengapa ada orang yang penyakit lupanya separah diriku. Hampir setengah jam kami mencari namun tak ketemu juga. Kukirim sms kepada semua teman yang ikut latihan tadi. Maksud hatiku, siapa tahu ada diantara mereka yang tidak sengaja membawa kunci motorku. Atau setidaknya ada yang tahu dimana letak benda sialan tersebut terakhir kali mereka lihat.

Tuit..tuit...handphoneku berbunyi, ada balasan dari Ardianti Okvita adik kelasku, aku masih ingat ketika itu dia sms seperti ini “enggeh Mas, mboten semerap (
Iya Mas, saya nggak tahu)”. Karena gopoh, aku hanya membaca kata “Enggeh Mas” itu saja.

Loh, Ed! Kontake digowo Vitaa nggleteke! Dadi intine duduk aku sing lali (Tuuh kan, Ed! Kunci motornya dibawa Vita ternyata! Jadi intinya bukan aku yang lupa)” begitu kataku.

“Anu Vit, kira-kira gak keberatankah kalo kamu kembali kesini membawakan kunci motorku?” sms-ku kepada Vita. Sungguh merepotkan sekali.

“Loh Mas, aku kan tadi sudah bilang, aku gak tahu”. Mungkin dia jengkel. Akupun kecele, dan setelah tadi terlihat senyap dan cukup bahagia, Edi kini ngomel-ngomel lagi.

Karena jawaban-jawaban yang dikirim balik kepadaku tak ada yang memuaskan, Akhirnya dengan sedikit jengkel Edi memberi sebuah saran aneh yakni dia menyuruhku untuk meditasi. Ya, meditasi! Konyol sekali. Si Keriting itu lupa bahwa fungsi meditasi dalam teater itu seharusnya bagi para aktor dan aktris yang akan tampil di panggung, supaya mereka dapat merubah karakter asli mereka ke karakter tokoh yang akan mereka perankan. Bukan untuk mencari kunci motor yang hilang. Tapi, karena aku merasa bersalah akhirnya kuturuti saja perintah edan tersebut.

Edi menyuruhku memejamkan mata sebagai awal mula proses meditasi. Satu kali percobaan, gagal. Dua kali, aku masih belum ingat. Yang hanya dapat kuingat, saat itu pelatih teater kami terkekeh-kekeh melihat ulah kami berdua. Kesal, akhirnya Edi mengakhiri meditasi dan kembali mengajakku mencari kunci motor bersama.

Sambil menggerutu, dia mengeluarkan sabdanya "Rumus matematika pirang-pirang tahun gak lali, konci sepeda motor jek kaet ndeleh 2 jam, wes lali (rumus matematika bertahun-tahun tak pernah lupa, menaruh kunci motor baru 2 jam saja sudah lupa)". Pelatih kami tertawa semakin lebar. Kubalas-sambil menggerutu juga tentu saja "rumus matematika ambek kunci motor gak onok hubungane, Keriting!! (rumus matematika dengan kunci motor, itu sama sekali tak ada hubungannya, Keriting!)".

Dan setelah berpeluh keringat, akhirnya kami pun menemukan kunci motor tersebut, yang ternyata ada di bawah meja tempat aku meletakkan tas tadi ketika baru datang. Besar kemungkinan, kontak tersebut jatuh dari atas meja. Jadi, bukan aku yang sebenarnya pelupa. Itu hanya sebuah “kecelakaan”.
 

Alibi :D