LATIHAN TEATER DI KANTOR WAKIL WALIKOTA PASURUAN
Jadi, aku adalah seseorang yang dipilih Tuhan untuk menanggung karunianya berupa penyakit lupa. Dan lucunya, kebanyakan benda yang sering kulupa itu adalah kunci motor alias kontak. Beruntung, penyakit lupa ini akhir-akhir ini sudah mulai sembuh. Tapi, semasa SMA dulu kusimpan kekonyolan-kekonyolan yang terjadi akibat sakit pelupaku ini. Beberapa memang sangat konyol sih, haha. Kunamai cerita-cerita tersebut dalam balada berjudul "Tragedi Kontak Hilang".
Ketika itu, latihan telah usai dan semua anggota teater sudah pulang kecuali aku dan temanku, Edi. Masalahnya, aku lupa menaruh kunci motorku tadi dimana sehingga kami tak bisa pulang sesuai jadwal. Aku mengajak Edi menelusuri senti demi senti ruang latihan kami yang luasnya kurang lebih sebesar satu setengah kali luas sebuah ruang kelas.
Edi mencari sambil ngomal-ngomel mengapa ada orang yang penyakit lupanya separah diriku. Hampir setengah jam kami mencari namun tak ketemu juga. Kukirim sms kepada semua teman yang ikut latihan tadi. Maksud hatiku, siapa tahu ada diantara mereka yang tidak sengaja membawa kunci motorku. Atau setidaknya ada yang tahu dimana letak benda sialan tersebut terakhir kali mereka lihat.
Tuit..tuit...handphoneku berbunyi, ada balasan dari Ardianti Okvita adik kelasku, aku masih ingat ketika itu dia sms seperti ini “enggeh Mas, mboten semerap (Iya Mas, saya nggak tahu)”. Karena gopoh, aku hanya membaca kata “Enggeh Mas” itu saja.
“Loh, Ed! Kontake digowo Vitaa nggleteke! Dadi intine duduk aku sing lali (Tuuh kan, Ed! Kunci motornya dibawa Vita ternyata! Jadi intinya bukan aku yang lupa)” begitu kataku.
“Anu Vit, kira-kira gak keberatankah kalo kamu kembali kesini membawakan kunci motorku?” sms-ku kepada Vita. Sungguh merepotkan sekali.
“Loh Mas, aku kan tadi sudah bilang, aku gak tahu”. Mungkin dia jengkel. Akupun kecele, dan setelah tadi terlihat senyap dan cukup bahagia, Edi kini ngomel-ngomel lagi.
Karena jawaban-jawaban yang dikirim balik kepadaku tak ada yang memuaskan, Akhirnya dengan sedikit jengkel Edi memberi sebuah saran aneh yakni dia menyuruhku untuk meditasi. Ya, meditasi! Konyol sekali. Si Keriting itu lupa bahwa fungsi meditasi dalam teater itu seharusnya bagi para aktor dan aktris yang akan tampil di panggung, supaya mereka dapat merubah karakter asli mereka ke karakter tokoh yang akan mereka perankan. Bukan untuk mencari kunci motor yang hilang. Tapi, karena aku merasa bersalah akhirnya kuturuti saja perintah edan tersebut.
Edi menyuruhku memejamkan mata sebagai awal mula proses meditasi. Satu kali percobaan, gagal. Dua kali, aku masih belum ingat. Yang hanya dapat kuingat, saat itu pelatih teater kami terkekeh-kekeh melihat ulah kami berdua. Kesal, akhirnya Edi mengakhiri meditasi dan kembali mengajakku mencari kunci motor bersama.
Sambil menggerutu, dia mengeluarkan sabdanya "Rumus matematika pirang-pirang tahun gak lali, konci sepeda motor jek kaet ndeleh 2 jam, wes lali (rumus matematika bertahun-tahun tak pernah lupa, menaruh kunci motor baru 2 jam saja sudah lupa)". Pelatih kami tertawa semakin lebar. Kubalas-sambil menggerutu juga tentu saja "rumus matematika ambek kunci motor gak onok hubungane, Keriting!! (rumus matematika dengan kunci motor, itu sama sekali tak ada hubungannya, Keriting!)".
Dan setelah berpeluh keringat, akhirnya kami pun menemukan kunci motor tersebut, yang ternyata ada di bawah meja tempat aku meletakkan tas tadi ketika baru datang. Besar kemungkinan, kontak tersebut jatuh dari atas meja. Jadi, bukan aku yang sebenarnya pelupa. Itu hanya sebuah “kecelakaan”.
Alibi :D
No comments:
Post a Comment