Waktu itu hari Rabu, menggunakan seragam kuliah berwarna krem. Aku pulang ke kosan dengan membawa motor teman sekamarku, Herdianto M P. Jangan tanya padaku kenapa dia tidak ikut pulang waktu itu, karena aku lupa, hehe. Di kosanku, ada juga tetangga sebelah kamar yang juga teman kuliahku dan Herdi, mereka tinggal sekamar bertiga. Mereka-mereka itu adalah Yakup, Bangkit, dan Yayak.
Nah, Kamis paginya ketika mau berangkat kuliah, aku lupa menaruh kunci motor tersebut dimana. Karena takut terlambat, dan motor di kosan cuma ada dua sementara jumlah kami berlima (Aku, Herdi, Yakup, Sulthani, dan Bangkit) akhirnya kami sepakat untuk membagi boncengan masing-masing motor dua orang dan tiga orang. Motor Herdi ditinggal di kosan.
Siangnya, usai pulang kuliah kucoba mencari lagi kunci motor tersebut. Di kamarku sendiri, tak ada. Kucari juga di kamar Sulthani, Bangkit, dan Yakup, maksudku, siapa tahu aku lupa menaruh kunci tersebut sembarangan ketika menonton TV atau bermain PES disana. Namun, di kamar mereka tak ada pula. Kucari dijalan, siapa tahu kunci tersebut jatuh, tak ketemu juga. Sampai malam hari kucari, tak kunjung kutemukan. Hari Jum'at pun kami lalui dengan masalah yang sama.
Usai pulang kuliah Jum’at aku mengajak kawan-kawanku mengobrak-abrik kamar, siapa tahu benda kecil tersebut terselip di suatu tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Herdi tak ikut karena ia sedang tidak berada di kosan. Kasur diangkat, lemari tempat menaruh TV diseret-seret. Kamar mandi pun tak luput dari razia. Namun hasilnya nihil. Yakup frustasi, daripada repot-repot dia menyarankan agar aku memanggil ahli kunci saja.
Aku turuti saran itu, Jum'at sore aku berangkat ke Tukad Pakerisan bersama Bangkit untuk menjemput ahli kunci. Kepadaku, Sulthani alias Yayak bilang bahwa sebaiknya kunci kamar kosan digandakan juga. Segera kutangkap maksud itu, bahwa maksud Yayak yang sebenarnya adalah berjaga-jaga siapa tahu tak ada angin tak ada hujan, penyakit lupaku ini menular dari kunci motor ke kunci kamar. Sekedar informasi, kawanku yang satu ini memang pandai sekali menjaga hati orang lain agar tidak tersinggung. :D
Masalah yang dua hari tak kunjung terselesaikan oleh kami berempat, Mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, ternyata lenyap seketika di tangan ajaib si ahli kunci hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Perbandingan yang menyedihkan.
Kepada kami, ahli kunci memasang tarif 30.000,- untuk satu kunci motor karena hilang. Dan Rp 10.000,- untuk tarif menggandakan kunci kamar. Kawanku bertiga yang baik hati, menyumbangkan masing-masing 10.000,- buatku. Namun, karena aku tak mau merepotkan mereka dan mereka tak mau pula kukembalikan uangnya, maka aku punya ide agar uang 30.000 itu dibelikan Mie Ayam saja. Kita makan bersama.
Keadaan seperti ini Kawan, kalau tidak salah sering disebut dengan “simbiosis parasitisme” hehe.
Senin pagi, aku mengangkat seragam kremku yang kemarin telah kucuci untuk disetrika, karena seragam krem dipakai setiap Senin dan Rabu. Ketika menyetrika bagian saku celana, aku menemukan sebuah keanehan. Ada suatu benda kecil yang terselip di dalamnya. Setelah kurogoh, aku kaget setengah mati. Kunci Motor Herdi yang selama ini menghilang.
:D
No comments:
Post a Comment